Panggung Sandiwara Kehidupan

haihai..sdang apa kalian disana?

hm..ga tau kenapa pikiran gw lagi kalut banged! mungkin karena mau UTS(doain ya..),ga enak badan n malangnya sdang ada suatu masalah yg cukup menyita pikiran gw!

gw bingung..hidup dan dunia kadang terasa asing buat gw masuk didalamnya. ada lingkungan, teman,saudara, rasa cinta, bosan, sedih,daaaannn sebagainya. kenapa ya, kadang seolah kita menjadi pemeran dalam panggung sandiwara kehidupan yg terasanya kita hanya menjadi bahan tertawaan akibat kebodohan kita sendiri.

arggggggghh..bingung,,bingung..

Mother is My inspiration, LOVE U!!

Hmm.. bulan ramadhan sedang berjalan..met puasa ya bagi yang menjalankan, maaf lahir batin buat kalian semua..

4 hari dah dilewati di bulan puasa ini…dan kayaknya hari-hari berjalan cepet banged..

Ada beberapa hal yang bisa gw ambil hikmahnya selama bulan puasa tahun ini. Gw baru belajar masak, hehehe..ternyata oh ternyata cukup ribet tapi menyenangkan..!Disatu sisi dapet ilmu berupa resep OK ala my momz , nambah pahala (itung” bantuin nyokab) sekalian nyenengin nyokab..

Beberapa hari ini gw susah tidur n waktu yang gw habiskan sebagai penghantar tidur itu kalo gak baca buku, curhat di diary, browsing, dll. Abis gw nulis diary…gw membiarkan diri gw untuk berbengong” ria sambil instropeksi diri. Setelah gw renungkan(ceileh..), Gw menyadari betapa bersyukurnya punya orang tua, kakak yang begitu menyayangi gw. Rasa sayang yang begitu tulus dan ikhlas dari mereka sungguh gw rasakan.

Bahagianya hidup ditengah” orang yang sayang ma gw!! Emang bener c..kebahagiaan itu ga hanya timbul dari materi aja..Bagi gw yang lebih penting perhatian dari orang” terdekat.

Nyokab adalah inspirasi buat gw. Gak bisa dipungkiri bahwa beliau juga manusia biasa yang kadang suka buat kesel, marah, buat salah..tapi dibalik itu semua..bagi gw, dia malaikat yang nyata di dunia dan khususnya dalam hidup gw. Gak ada kata bosan, gak ada kata jenuh, gak ada kata lelah buat mendidik, melindungi, ngurusin, menuntun gw hingga sekarang.

Tangan terhalus bagi gw adalah tangan nyokab. Sentuhan paling lembut adalah sentuhan dari beliau, kebahagiaan nyokab adalah kebahagiaan gw. Cahaya yang paling terang adalah hatinya. ” Thank’s God , Thank’s for a chance to open my eyes”.

Mungkin hati gw akan jaaauuuhh lebih tersentuh dan sensitif jika gw bisa melihat sendiri saat nyokab berjuang menghidupi, memenuhi kebutuhan gw DARI LAHIR. Tapi sayang, saat bayi..yang gw tau hanya menangis dan tersenyum. Sebuah isyarat yang harus dimengerti oleh seisi rumah. Beranjak dewasa, gw semakin mengerti, semakin bisa merasakan bahwa cintanya…cinta orangtua penuh untuk anak-anaknya. Cinta tiada batas…

Apakah kalian juga merasakan hal yang sama? Gw yakin pasti diluar sana ada kehidupan keluarga yang lebih bahagia dan ada juga yang tidak. Walau gimanapun..kita harus tetap bersyukur…

Gw bangga punya orang tua seperti mereka. Orang tua yang kompak dan saling memenuhi. Terlebih ini semua mereka mulai dari nol. Gak ada kekayaan berlebih yang diwariskan dan tinggal dinikmati, gak ada kemewahan yang mencolok, suka duka mereka lalui bersama…

Ntah gimana gw harus membalas itu semua..tapi gw janji, gw akan berusaha yang terbaik. Dan gw ga akan berhenti berusaha sampai kedua orangtua gw bisa mengatakan “Kami bangga padamu..”!

udah dulu ah,, tangis pertanda rasa syukur dan bahagia terus mengalir nih..jadi malu..

Berhenti Menjadi Gelas!!

Cerita sederhana ini memberikan gw inspirasi dan menyentuh hati ketika gw membacanya. Cerita yang ‘mengisyaratkan’ bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup adalah sebuah perumpamaan yang bermakna. Simak deh ceritanya..

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata
Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak,supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

You Are on My Mind

Hufhh,,sedih ya rasanya saat kita ditinggalkan seseorang yang dekat dengan kita atau yang telah menjadi salah satu pewarna bagi hidup kita! Apalagi kita harus melapangkan dada jika keputusan itu harus diambil demi menggapai sesuatu yang lebih baik.

Gw merasakan hal serupa ketika mengantar adik sepupu gw yang ingin melanjutkan pendidikannya di luar kota. Mungkin kedengarannya biasa aja.. tapi ketika gw mengalami dan melihat kejadian itu gw sungguh merasa seolah-olah harus ‘menoleh kebelakang’ sejenak hanya untuk mengingat masa-masa indah bersamanya.

Kami selalu bersama sejak kecil, apalagi jarak rumah kami tidak jauh. Kami sering berlibur bersama dan menghabiskan waktu bersama. Masa kecil yang tak tergantikan karena dulu yang kami tau bahwa hidup hanyalah bermain. Semakin dewasa kami semakin menyadari bahwa kami menjadi subjek, dan objek bagi kehidupan. Dan waktu terus bergulir….

Hal yang paling mengharukan bagi gw ketika melihat ibunya menangis saat terakhir bersamanya. Gw menyadari bahwa ‘paksaan’ untuk ikhlas dan percaya harus memenangkan hati sang ibu yang sedang bimbang dan sedih. Yang lebih mengharukan lagi yaitu sebelum ayahnya masuk mobil saat kami bersiap kembali ke jakarta..saya melihat ayahnya menepukkan bahu anak kesayangannya itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa sang ayah berkata “bapak bangga padamu..!”

Ia(adik sepupuku) memang anak yang cerdas, berakal budi baik, sopan, dan penolong. Kami semua merasa dekat dengannya. Tangisan pun tak bisa disembunyikan dari wajahnya (dan gw tentunya) ketika melihat sang ibu terus menangisinya. Tapi lagi-lagi kami harus ingat bahwa ini adalah jalan yang telah ia pilih.

Hal ini mungkin suatu permulaan dari awal perjalanannya menuju kesuksesan. Setiap perjalanan yang ingin ditempuh pasti perlu waktu, pengorbanan dalam segi apapun. tapi jika kita menyadari bahwa kekuatan mental, ketangguhan hati untuk mengatakan SAYA BISA akan mengalahkan segala rintangan yang ada.

Pengalaman kecil, waktu sempit yang gw alami tersebut telah membuka mata gw bahwa cepat atau lambat kita sebagai anak akan lepas dari genggaman orangtua kita demi tanggung jawab dan kehidupan yang lebih baik. Dan yang perlu diingat bahwa semua manusia pasti akhirnya akhir kembali pada-Nya sementara kehidupan masih akan terus bergulir…

Setiap ada awal pasti ada akhir, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan”

“Saat seseorang meninggal kita tidak bisa mengatasi kesedihan kita dengan melupakan, kita mengatasinya dengan mengingat dan menyadari bahwa tak seorangpun benar-benar lenyap atau hilang kalau mereka sudah pernah hadir dalam hidup kita dan mencintai kita seperti kita mencintai mereka”

“Yang sulit bukan melenyapkan kenangan melainkan mengumpulkan kekuatan untuk merelakannya”

Teman ‘Bertopeng’

Wuahhh…bingung, bingung, dan bingung deh..ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan..dilema dengan batas waktu yang ditetapkan.

ketika kita mulai menemukan teman yang nyaman untuk menjadi tempat curhat, tempat berbagi, tempat meluapkan segalanya..ternyata dia tidak lain hanya seseorang yang gemar menggunakan ‘topeng’.

mungkin baginya ..dia tidak bersalah, atau sebenernya sadar akan kesalahanya tapi berpura-pura tidak tau, wew…ini dia nih yang terkadang sulit untuk ditebak jalan pikirannya.

susah, ga enak rasanya kalo kita sudah dipercaya orang lain untuk dijadikan tempat berbagi namun kita sendiri pada dasarnya kurang menyetujui jalan pemikirannya, dan harus bilang ‘iya’ atau hanya bisa tersenyum saat teman kita itu sedang meluapkan perasaannya tanpa meminta pendapat atau persetujuan sesuatu…

kira-kira apa yang harus kamu lakukan bila dalam kondisi seperti ini??

Cinta dan Rintangan

Pernah gak kamu ngerasa bahwa cinta begitu berat tuk ditaklukan? begitu sulitnya ditebak, kapan dan dimana ia akan singgah?! atau bahkan kamu merasa bahwa cinta begitu menyebalkan tapi tak terelakkan? apakah aku pantas untuk dicintai? pantaskah aku untuk bahagia? dan pantaskah aku untuk menerima kebahagiaan?”

Mungkin sebagian dari kita sering bertanya “Mengapa disaat cinta memberikan ku kesempatan untuk merasakan kebenaran adanya cinta yang tulus..semua malah menaklukan jalanku??”

Kita sering beranggapan bahwa kita hanya 0,01% dalam memori segelintir orang. Karena itu, kita sering beranggapan bahwa hanya sedikit orang yang mencintai dan memperdulikan kita. Atau mungkin terkadang kita sering berfikir “Mungkin memang gw yang salah atau memang gw gak pantas untuk mendapatkan apa yang gw harapkan!”

Pada dasarnya, kita pasti menginginkan seseorang yang menerima kita apa adanya TANPA SYARAT APAPUN dengan kesadaran bertanggung jawab untuk kebahagiaan aku dan dia..(yang kita cintai dan kita percaya..).

Tak bisa dibohongi..bahwa kita hanya manusia biasa yang ingin sekali merasakan kehadiran seseorang yang membawa segudang cinta dan jaminan kebahagiaan bila “aku” bersamanya..

Menurut gw..pemikiran bahwa kita takut untuk mencintai akan menjadi sebuah doktrin bagi diri sendiri bila kita tidak bisa memandang dunia secara luas. Jangan memandang dunia dengan selalu melihat kebelakang tapi juga jangan terlalu banyak berangan-angan.

Gw pun pernah berfikir seperti itu, tetapi setelah difikir-fikir, melihat, dan merasakan hal itu..gw lebih memilih untuk mengatakan bahwa yang gw takutkan bukan mencintai orang tersebut tapi cinta yang gw miliki takut akan menyakitinya..hati yang terpilih.

“Aku ingin bebas..tapi aku tak bisa. Aku ingin terbang..tapi aku tak mampu. Aku ingin kamu..tapi aku enggan mengungkapkannya.”

Pikirkan dan sadarilah..haruskah kita melepaskan sesuatu yang berharga demi sebuah nilai yang kecil dan tak pasti? atau haruskah kita merasa malu dengan keadaan yang seolah-olah selalu menertawakan kita?

aku hanya berharap, jika semua impianku hancur..satu-satunya yang menjadi kenyataan bahwa kamu pernah mencintaiku”

Siapa Aku?

Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s

Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Lalu sambil berkata,”Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah org yg PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan tulisan ini begitu saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain.

Masalah dalam hidup

Keinginan dan Harapan

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menuangkan pikiran dan perasaanya. Seperti gw..gw lebih suka menuangkan apa yang gw rasakan dengan menuliskannya dalam buku diary atau bercerita pada sahabat yang benar-benar dipercaya, dan tak lupa mengadu pada Sang Illahi. bagaimana dengan kamu?? siapa yang pertama kali kamu cari dan temui saat masalah datang dalam hidupmu??

hidup ini penuh dengan misteri..seandainya kita bisa tau apa yang terjadi esok..pasti kita akan mempersiapkan dengan sebaik mungkin. Sangat disayangkan..itu cuma “SEANDAINYA”. Karena pada kenyataanya kita gak tau apa yang terjadi hari ini, esok, lusa, atau kapanpun…

hidup adalah seperti apa yang saya wujudkan sendiri. Terkadang dunia berisi kemegahan saat kita merasa hidup dengan diri kita sendiri. Merasa banyak orang yang membutuhkan kita dalam dunia yang serba tidak pasti. Setelah itu kita berusaha membuat mereka mengerti bahwa semua masalah yang dihadapi pasti ada akhirnya dan meyakinkan bahwa masalah ini dapat dihadapi dengan ikhlas, tegar, dan bijaksana.

Selama hidup, gw menyadari bahwa hidup bukan suatu keinginan  melainkan harapan. Begini maksudnya–> Kita gak pernah mengharapkan kehidupan seperti saat ini yang sedang dijalani, kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Karena bila keinginan dapat menjadi kenyataan dari semua harapan..gak kan ada manusia yang sengsara, menderita, mengeluh. Gw hanya berharap bahwa dalam kenyataan hidup ini gw(dan semua orang tentunya) akan mendapatkan kebahagiaan pada akhirnya…

kita tidak pernah menginginkan wajah, fisik, hidup kita seperti saat ini (pasti ingin yang terrrrrr***!!!, benar??)..tapi gw berharap bahwa kecantikan hati bisa menutupi kekurangan yang ada dan berharap bahwa gw bisa menenangkan hati setiap orang yang gw rasa sedang berjuang dalam “pertempuran hidup” yang lebih sulit.(Amin..)

“kegelapan”, kekurangan, dan rasa syukur membuat kita perlu membentangkan diri dan berteriak bahwa kita mencintai diri sendiri. Berbagai warna dalam kehidupan kita membuat kita merasa membutuhkan seseorang untuk kita “genggam”. merasakan ikatan batin yang kuat dan bisa menuntun kita keluar dari  “keadaan yang pengap”.

Sungguh indah rasanya hidup ini saat kita mulai belajar menghargai hidup, menghargai segala yang sedang maupun telah terjadi dan tetap mencintai diri sendiri…..