Hufhh,,sedih ya rasanya saat kita ditinggalkan seseorang yang dekat dengan kita atau yang telah menjadi salah satu pewarna bagi hidup kita! Apalagi kita harus melapangkan dada jika keputusan itu harus diambil demi menggapai sesuatu yang lebih baik.
Gw merasakan hal serupa ketika mengantar adik sepupu gw yang ingin melanjutkan pendidikannya di luar kota. Mungkin kedengarannya biasa aja.. tapi ketika gw mengalami dan melihat kejadian itu gw sungguh merasa seolah-olah harus ‘menoleh kebelakang’ sejenak hanya untuk mengingat masa-masa indah bersamanya.
Kami selalu bersama sejak kecil, apalagi jarak rumah kami tidak jauh. Kami sering berlibur bersama dan menghabiskan waktu bersama. Masa kecil yang tak tergantikan karena dulu yang kami tau bahwa hidup hanyalah bermain. Semakin dewasa kami semakin menyadari bahwa kami menjadi subjek, dan objek bagi kehidupan. Dan waktu terus bergulir….
Hal yang paling mengharukan bagi gw ketika melihat ibunya menangis saat terakhir bersamanya. Gw menyadari bahwa ‘paksaan’ untuk ikhlas dan percaya harus memenangkan hati sang ibu yang sedang bimbang dan sedih. Yang lebih mengharukan lagi yaitu sebelum ayahnya masuk mobil saat kami bersiap kembali ke jakarta..saya melihat ayahnya menepukkan bahu anak kesayangannya itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa sang ayah berkata “bapak bangga padamu..!”
Ia(adik sepupuku) memang anak yang cerdas, berakal budi baik, sopan, dan penolong. Kami semua merasa dekat dengannya. Tangisan pun tak bisa disembunyikan dari wajahnya (dan gw tentunya) ketika melihat sang ibu terus menangisinya. Tapi lagi-lagi kami harus ingat bahwa ini adalah jalan yang telah ia pilih.
Hal ini mungkin suatu permulaan dari awal perjalanannya menuju kesuksesan. Setiap perjalanan yang ingin ditempuh pasti perlu waktu, pengorbanan dalam segi apapun. tapi jika kita menyadari bahwa kekuatan mental, ketangguhan hati untuk mengatakan SAYA BISA akan mengalahkan segala rintangan yang ada.
Pengalaman kecil, waktu sempit yang gw alami tersebut telah membuka mata gw bahwa cepat atau lambat kita sebagai anak akan lepas dari genggaman orangtua kita demi tanggung jawab dan kehidupan yang lebih baik. Dan yang perlu diingat bahwa semua manusia pasti akhirnya akhir kembali pada-Nya sementara kehidupan masih akan terus bergulir…
“Setiap ada awal pasti ada akhir, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan”
“Saat seseorang meninggal kita tidak bisa mengatasi kesedihan kita dengan melupakan, kita mengatasinya dengan mengingat dan menyadari bahwa tak seorangpun benar-benar lenyap atau hilang kalau mereka sudah pernah hadir dalam hidup kita dan mencintai kita seperti kita mencintai mereka”
“Yang sulit bukan melenyapkan kenangan melainkan mengumpulkan kekuatan untuk merelakannya”


AniN said,
08pmSat, 16 Aug 2008 13:55:56 +00002008-08-16T13:55:56+00:0001 29, 2008 at 07:30 pm08
Niiaaaaaaaaaaaaa….
akU terHArU baca’a……
Sediiiihhhhhhhh….
Ni makasih ya wkt tu Udh mw NganteRin adikqu PindaHan n daH baNtu2 beres2… biLAnG mBA siTha jg Yaaa makasih bYk…
AwaL’a gw jG MraSA sedih Bgt cOZ bR pTamA x gw meNgaLAmi hAl sendiriaN taNpa adikku.. taPi gw jG hRs tRiMA kOndiSi’a sKrg, gw harus dukung dy kuL dsana bwt menggapai cita”nya… Toh nanTi kaN jg ketemU lg walaU ga sesering ktemu wkt dy msh d jkt…
TAr kL dy Balik,qta jln2 yaaaa….
ahhh udh ahhh gw jd mneteskan airmata lg…hehehehe
dhaniakusumastuti said,
08pmSat, 16 Aug 2008 14:03:56 +00002008-08-16T14:03:56+00:0002 29, 2008 at 07:30 pm08
iya..gw ikhlas n seneng kok nganterin n bersama kalian..tu juga gw lakuin karena gw saiank ma kalian..
yupz..nanti kita jalan bareng lagi ya..
always luv u..=D
makasi juga atas commentnya