Pernah gak kamu ngerasa bahwa cinta begitu berat tuk ditaklukan? begitu sulitnya ditebak, kapan dan dimana ia akan singgah?! atau bahkan kamu merasa bahwa cinta begitu menyebalkan tapi tak terelakkan? apakah aku pantas untuk dicintai? pantaskah aku untuk bahagia? dan pantaskah aku untuk menerima kebahagiaan?”
Mungkin sebagian dari kita sering bertanya “Mengapa disaat cinta memberikan ku kesempatan untuk merasakan kebenaran adanya cinta yang tulus..semua malah menaklukan jalanku??”
Kita sering beranggapan bahwa kita hanya 0,01% dalam memori segelintir orang. Karena itu, kita sering beranggapan bahwa hanya sedikit orang yang mencintai dan memperdulikan kita. Atau mungkin terkadang kita sering berfikir “Mungkin memang saya yang salah atau memang saya tidak pantas untuk mendapatkan apa yang saya harapkan!”
Pada dasarnya, kita pasti menginginkan seseorang yang menerima kita apa adanya TANPA SYARAT APAPUN dengan kesadaran bertanggung jawab untuk kebahagiaan aku dan dia..(yang kita cintai dan kita percaya..).
Tak bisa dibohongi..bahwa kita hanya manusia biasa yang ingin sekali merasakan kehadiran seseorang yang membawa segudang cinta dan jaminan kebahagiaan bila “aku” bersamanya..
Menurut saya..pemikiran bahwa kita takut untuk mencintai akan menjadi sebuah doktrin bagi diri sendiri bila kita tidak bisa memandang dunia secara luas. Jangan memandang dunia dengan selalu melihat kebelakang tapi juga jangan terlalu banyak berangan-angan.
Saya pun pernah berfikir seperti itu, tetapi setelah difikir-fikir, melihat, dan merasakan hal itu..saya lebih memilih untuk mengatakan bahwa yang saya takutkan bukan mencintai orang tersebut tapi cinta yang saya miliki takut akan menyakitinya..hati yang terpilih.
“Aku ingin bebas..tapi aku tak bisa. Aku ingin terbang..tapi aku tak mampu. Aku ingin kamu..tapi aku enggan mengungkapkannya.”
Pikirkan dan sadarilah..haruskah kita melepaskan sesuatu yang berharga demi sebuah nilai yang kecil dan tak pasti? atau haruskah kita merasa malu dengan keadaan yang seolah-olah selalu menertawakan kita?
“aku hanya berharap, jika semua impianku hancur..satu-satunya yang menjadi kenyataan bahwa kamu pernah mencintaiku”
Categories:
